Menko Yusril Buka FSIGB 2025: Kepri Adalah Motor Kesusastraan Melayu Indonesia

29 Oktober 2025 156 Views No. Rilis: 677/RILIS-DISKOMINFO/X/2025

DISKOMINFO KEPRI – Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan Republik Indonesia, Dato' Seri Indera Nara Wangsa, Yusril Ihza Mahendra, secara resmi membuka Festival Sastra Internasional Gunung Bintan (FSIGB) 2025 di pelataran Gedung Lembaga Adat Melayu (LAM) Kepri, Selasa (28/10) malam.

Acara pembukaan berlangsung meriah dan penuh nuansa Melayu dengan penampilan apik Seniman Rojer Kajol yang memainkan alat musik gambus, diiringi kelompok musik Dermaga Musica dari Kota Tanjungpinang.

Festival yang akan berlangsung hingga 31 Oktober 2025 ini mengusung tema “Memelihara Persaudaraan Para Penyair” — sebuah ajakan untuk memperkokoh silaturahmi lintas bangsa melalui karya sastra.

Festival ini merupakan gagasan Dato' Sri Lela Budaya Rida K. Liamsi, tokoh sastra Melayu asal Kepri, sebagai bentuk upaya merawat dan melestarikan tradisi literasi dunia Melayu. Kepri, sebagai wilayah yang dulu dikenal sebagai pusat lahirnya karya-karya besar dunia Melayu, kini kembali menegaskan perannya di kancah sastra internasional.

Dalam sambutannya, Menko Yusril Ihza Mahendra menegaskan bahwa Kepulauan Riau adalah motor perkembangan kesusastraan Melayu dan Indonesia pada umumnya.

“Kepulauan Riau memiliki akar kuat peradaban Melayu. Karena itu festival sastra internasional ini adalah langkah tepat dan strategis. Festival ini selayaknya dilaksanakan secara berkelanjutan setiap tahun,” ujar Yusril disambut tepuk tangan para tamu.

Lebih jauh, Yusril menjelaskan bahwa festival sastra bukan hanya ajang pembacaan puisi atau peluncuran buku, melainkan “sebuah laboratorium kemanusiaan”.

“Di sini kita merefleksikan kembali peran fundamental sastra dalam membangun peradaban yang adil, manusiawi, dan berkeadilan. Di panggung sastra ini, kita menemukan benang merah persaudaraan yang melintasi batas geografis, menegaskan bahwa kita adalah bagian dari komunitas global yang saling terhubung,” ungkapnya.

Menko Yusril juga menilai bahwa dampak positif festival ini akan turut meningkatkan sektor pariwisata, baik di Kepri maupun secara nasional.

“Impact-nya jelas — pariwisata di Kepulauan Riau akan berkembang, dan pada akhirnya Indonesia dapat lebih dikenal di mata dunia,” tambahnya.

Sementara itu, Gubernur Kepulauan Riau H. Ansar Ahmad menegaskan bahwa budaya merupakan segmen penting dalam pengembangan pariwisata di Kepri.

“Pemerintah provinsi, kabupaten, dan kota akan terus berkomitmen menggali, memperkenalkan, dan menghidupkan kembali kekayaan budaya, termasuk warisan budaya takbenda yang sangat banyak di Kepri,” kata Gubernur Ansar.

Ia juga menyampaikan bahwa pemerintah tengah menyiapkan pembangunan monumen bahasa dan museum budaya sebagai bagian dari upaya memperkuat identitas Melayu Kepri.

“Insya Allah, ke depan melalui monumen bahasa dan museum yang akan kita bangun, Kepri akan menjadi magnet bagi masyarakat dari berbagai provinsi dan bahkan mancanegara untuk mengenal Kepri lebih dekat lagi,” tambahnya.

Gubernur Ansar juga menyebut bahwa Kabupaten Lingga, sebagai Bunda Tanah Melayu, mendapat perhatian khusus.

“Saya banyak mendapat pesan dari Pak Bupati Lingga. Dengan dukungan Pak Menko, kita akan kembangkan museum dan objek wisata sejarah di Lingga agar perjalanan sejarah Kepri semakin dikenal luas,” ujarnya.

Tokoh sastra sekaligus Ketua Panitia FSIGB 2025, Dato’ Rida K. Liamsi, dalam sambutannya mengingatkan kembali kejayaan sastra Melayu yang lahir dari Pulau Penyengat.

“Dulu, dari pulau kecil di depan kita ini, Pulau Penyengat, puluhan karya besar lahir pada abad ke-18. Dari sanalah semangat ini kita lanjutkan,” kata Rida.

Ia menjelaskan bahwa selama delapan tahun pelaksanaan FSIGB, pihaknya telah berhasil menghadirkan sastrawan dari Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei, dan Thailand Selatan untuk saling bertukar pikiran dan memperkuat jejaring sastra dunia Melayu.

Tradisi yang dijaga setiap tahunnya antara lain penerbitan antologi puisi bersama, sekurang-kurangnya tiga buku per tahun.

“Sampai tahun 2025 ini, sudah ada 25 ‘Jazirah Buku’ yang kita hasilkan,” jelas Rida.

Selain itu, FSIGB juga biasa menggelar seminar sastra, peluncuran 100 buku puisi bersama, serta ziarah budaya ke berbagai situs bersejarah di Kepri — meskipun tradisi peluncuran buku tidak dilakukan tahun ini.

Festival Sastra Internasional Gunung Bintan 2025 turut dihadiri oleh Penulis Nasional Yusron Ihza Mahendra (adik Menko Yusril), Ketua TP-PKK Kepri Hj. Dewi Kumalasari Ansar, Ketua LAM Kepri Raja Al Hafiz, anggota DPRD Kepri, Forkopimda Kepri, serta para Bupati dan Wali Kota se-Kepri.

Dengan semangat “Memelihara Persaudaraan para Penyair”, FSIGB 2025 bukan hanya menjadi perayaan sastra, tetapi juga penegasan jati diri Kepulauan Riau sebagai poros kebudayaan Melayu dan mercusuar literasi dunia. (ron)

Lampiran & Dokumentasi :