Kepri Berharap Tekan Stunting Dibawah 15 Persen


05 August 2019
17

Foto: IST


TANJUNGPINANG,DISKOMINFO - Tak hanya berhasil membawa Kepri menuju Top 99 Inovasi Pelayanan Publik 2019, Cegah Stunting Bersama Dokter Keluarga membawa dampak yang lebih besar. Diharapkan kedepan, Kepri mampu menekan angka stunting hingga 15 persen.

“Impact-nya adalah Riskesdas (riset kesehatan dasar) tahun 2018. Ternyata status gizi buruk kita di Kepri terendah secara nasional. Kita 13 persen, sementara nasional 17 persen. Nomor satu terendah. Stunting nomor 4 terendah,” sebut Tjetjep Yudiana, Kepala Dinas Kesehatan Kepri usai apel pagi, Senin (5/8).

Di Kepri stunting berada di angka 23 persen. Sedangkan secara nasional 30 persen. Negara disebut sejahtera, jika berhasil menekan stunting dibawah 20 persen. Kepri berharap akan mampu menyamai Malaysia, menekan angka stunting hingga 15 persen saja. 

Pasalnya stunting tidak hanya berdampak pada postur tubuh saja, tapi juga berpengaruh pada kesehatan dan kecerdasan anak dimasa mendatang. “Berpengaruh pada produktifitas bangsa kedepan,” tambah Tjetjep.

Pasalnya penyakit stroke, jantung, gagal ginjal, hipertensi hingga diabetes juga berhubungan dengan stunting. Saat ini Kepri masih harus menekan angka stunting lebih rendah dari 23 persen. Pasalnya mereka yang stunting, beresiko menjadi beban negara.

“Karena 23 persen dari Balita ini menjadi beban negara yang tidak bisa dipulihkan. Sudah permanen. Itu masalahnya. Kalau kita berhasil menekan 23 persen sekarang, ini akan terus menjadi beban negara dimasa mendatang. Harapan kita seperti Malaysia, 15 persen,” jelas Tjetjep.

Untuk menekan angka stunting, Dinas Kesehatan menurunkan tenaga kesehatan ke rumah-rumah. Tidak hanya dokter saja yang melakukan home visit, tapi juga bidan, perawat dan tenaga kesehatan lain. Saat ini sudah 54 persen rumah-rumah di Kepri, dikunjungi oleh tenaga kesehatan.

“Dari 500 ribu rumah di kepri. Tepatnya 498 ribu rumah. Sudah 54 persen dikunjungi. Semakin banyak tenaga kesehatan masuk ke rumah-rumah, semakin terdeteksi permasalahan kesehatan. Termasuk gizi buruk dan stunting tadi,” sebut Tjetjep. 

Perlu diingat, stunting tidak dapat diobati. Usia 1000 hari anak adalah saat terpenting. Diperlukan gizi terbaik. “Seribu hari itu bukan dari saat anak lahir. Tapi dari saat di dalam kandungan. Itu perlu asupan gizi yang sesuai,” ungkap Tjetjep.

Masyarakat diminta membantu pemerintah untuk mengawasi stunting. Jika ada keluarga di lingkungan yang kesulitan memenuhi gizi bagi anak, dapat dilaporkan ke Dinas Kesehatan. Akan diberikan asupan tambahan secara cuma-Cuma. “Itu memang hak masyarakat yang tidak mampu,” sebut Tjetjep.

Penulis : Novyana