Selain EDAT, Inovasi Jalin Matra juga Berkibar di UNPSA 2018

SIARAN PERS KEMENTERIAN PANRB
25 JUNI 2018 - 302/HUMAS-MENPANRB/2018

JAKARTA – Terpilihnya Sistem Early Diagnosis And Treatment (EDAT) dari Teluk Bintuni sebagai juara dalam United Nations Public Service Awards (UNPSA) 2018 menunjukkan kepada dunia bahwa kualitas pelayanan publik Indonesia tidak kalah dengan negara lain.

Bukan hanya itu, Jawa Timur juga memiliki inovasi yang menjadi finalis dalam kegiatan yang diselenggarakan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tersebut, yakni Jalan Lain Menuju Mandiri dan Sejahtera (Jalin Matra) Penanggulangan Feminisasi Kemiskinan.

Penghargaan kepada Pemprov Jawa Timur diserahkan oleh Duta Besar RI untuk Kerajaan Maroko, E. D. Syarif Syamsuri kepada Asisten Administrasi Umum Setdaprov Jatim yang mewakili Gubernur Jatim Soekarwo. Penghargaan itu diberikan dalam rangkaian acara peringatan Hari Pelayanan Publik Internasional Tahun 2018, di Marrakesh, Maroko, sejak tanggal 21-23 Juni lalu.

Jalin Matra menjadi finalis UNPSA untuk kategori promosi layanan publik yang responsif terhadap semua gender untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan. Jalin Matra berhasil menjadi finalis setelah melewati ronde pertama yang diikuti oleh 21 inovasi dari berbagai pemerintah daerah, dan ronde kedua yang diikuti oleh empat inovasi.

Deputi Bidang Pelayanan Publik Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB), Diah Natalisa mengapresiasi inovasi dari Pemprov Jawa Timur ini. “Kami berharap inovasi ini terus berkembang dan berkelanjutan untuk menuntaskan masalah kemiskinan,” tutur Diah, di Jakarta, Senin (25/06).

Inovasi ini dilatarbelakangi permasalahan gender dan penanggulangan kemiskinan di Jawa Timur, yang ditandai meningkatnya jumlah rumah tangga miskin berwajah perempuan. Pemprov Jatim merancang program Jalin Matra untuk menangani kemiskinan perempuan dengan menggunakan basis data terpadu by name and by address. Sasarannya adalah rumah tangga miskin dengan Kepala Rumah Tangga Perempuan (KRTP) atau janda. Bantuan ini meliputi kegiatan usaha ekonomi produktif, pertanian khusus dan spesifik, usaha ternak rumah tangga, dan perikanan skala kecil.

Tercatat, program ini telah memberikan bantuan kepada tiga ribu lebih KRTP di 54 desa, 10 kabupaten, dan melibatkan 179 kader PKK Desa yang dikoordinir oleh 20 tenaga pendamping dari kabupaten. Tahun 2009, sebelum adanya program ini, penduduk miskin di Jawa Timur sebanyak 6.022.590 jiwa (16,68%). Melalui implementasi Jalin Matra, pada September 2014, penduduk miskin di Jawa Timur berkurang menjadi 4.748.420 jiwa (12,28%). Kemudian, pada September 2017, angka kemiskinan di Jawa Timur kembali menurun menjadi 4.617.000 jiwa (11,20%).

Program ini juga meningkatkan Indeks Pembangunan Gender (IPG) Jawa Timur dari 90,22 persen pada 2013, menjadi 91,77 persen pada 2016. Sebanyak 198.265 KRTP juga merasakan pendidikan yang lebih baik bagi anak-anak mereka. Seiring dengan peningkatan ekonomi, para KRTP menjadi lebih sadar lingkungan, sosial, serta hak-hak perempuan.

Pemahaman kaum perempuan terhadap penanggulangan kemiskinan juga meningkat melalui Jalin Matra. Terjadi peningkatan peran KRTP dalam program pengentasan kemiskinan, berkembangnya kegiatan ekonomi perempuan skala rumah tangga, adanya penurunan kemiskinan KRTP pada periode 2009-2014, serta peningkatan pendapatan KRTP akibat terbukanya berbagai kegiatan usaha perempuan.

Pemantauan dan evaluasi pelaksanaan program dilakukan oleh perguruan tinggi dan sekretariat Jalin Matra secara tiga tahapan, yakni saat pencairan dana bantuan, realisasi penyerahan bantuan, dan evaluasi dampak program. Pendidikan dan pelatihan khusus, serta pendampingan yang tepat berhasil mengangkat kepercayaan diri kaum perempuan yang menjadi kepala keluarga. Selain itu, penggunaan data terpadu mengenai keluarga miskin dan semangat kerja kreatif juga membawa kesuksesan inovasi ini.

Menurunnya tingkat kemiskinan di Jawa Timur membuktikan kehadiran pemerintah di tengah masyarakat kecil. Kerja keras para abdi negara di Jawa Timur selaras dengan semboyan yang ada pada lambang provinsi Jatim, "Jer Basuki Mawa Bea", atau dalam Bahasa Indonesia bermakna "Keberhasilan Membutuhkan Pengorbanan". (don/HUMAS MENPANRB)