Catatan Perjalanan Kemanusiaan di Palestina

DISKOMINFO - Terminologi spartan secara konotatif adalah orang yang sederhana, memiliki keberanian dan disiplin yang tinggi. Karena tekadnya yang tinggi, dia sama sekali tidak takut oleh ancaman atau bahkan rasa sakit. Karakter ini boleh jadi melekat kepada bangsa Palestina, bahkan di perantauan sekalipun.

Tengoklah sosok Abu Umar, ketua lembaga kemanusiaan Khairu Ummah yang berkhidmat untuk membantu para pengungsi Palestina. Dia adalah mantan guru UNWRA (United Nation Relief and Work for Palestinian Refugees in Near East) di Aleppo, Suriah. 3 kali keluar penjara rejim Bashar Assad di Suriah untuk alasan yang tidak jelas, hingga kemudian melarikan diri ke Turki bersama para pengungsi Palestina 4 tahun silam.

Berhenti dari sekedar pengungsi yang mengharapkan belas kasihan, Abu Umar mengorganisasikan lembaga untuk membantu para pengungsi Palestina yang menyelamatkan diri dari kebrutalan perang sipil di Suriah. Dia bersama teman-temannya mendirikan lembaga kemanusiaan, membangun jaringan dan memastikan para pengungsi Palestina dapat membangun masa depannya.

Yang menarik dari pribadi Abu Umar, kendati beberapa kali ditangkap rejim Assad, dia sama sekali tidak pernah menceritakan pengalaman pribadinya berada di penjara. Justru sebaliknya, sekeluar dari penjara, dia harus menghadapi pertanyaan beberapa anak kecil yang kehilangan figur sang ayah karena dipenjara. Alih-alih menjawab sang ayah sudah meninggal karena penyiksaan seperti yang disaksikannya, dia menghibur sang anak itu bahwa ayahnya pergi jauh dan Insya Allah suatu saat kembali.

Saya melihat Abu Umar dilahirkan bukan untuk dirinya, dia tidak ingin bercerita tentang dirinya, kesusahannya selama di penjara, namun sebaliknya, dia ingin bercerita dan berbuat untuk orang lain dan saudara-saudaranya bangsa Palestina untuk tujuan mulia.
Pertanyaan anak-anak kecil yang kehilangan aya mereka menjadi sebagian motivasi dirinya untuk berhidmat dengan lembaga yang didirikannya, Khairu Ummah. Saat keluar dari penjara, dia mengaku mendapat tawaran pekerjaan yang boleh jadi akan memperbaiki masa depan ekonomi keluarga mereka, bekerja di Arab Saudi, namun dia lebih memilih berkhidmat bersama pengungsi.

Ada sekitar 30 ribu pengungsi Palestina yang tidak teregistrasi dan tersebar di hampir 30 kota di Turki. Mereka tidak termasuk dalam kategori pengungsi karena problem dalam regulasi. Oleh karena itu, mereka tidak masuk dalam tanggungan kemanusiaan pemerintah Turki.

Mereka tidak mendapatkan tunjangan hidup, akses pendidikan dan kesehatan. Namun untuk alasan kemanusiaan, pemerintah Turki tutup mata atas status mereka yang ilegal dan membiarkan mereka mengais kehidupan di kota-kota Turki yang tengah berkembang sebagai pemulung dan pekerja kasar. Pemerintah sendiri telah menggelontorkan tidak kurang 30 milyar dollar sejak pecah krisis kemanusiaan.

Semoga Allah SWT menyelamatkan Turki, bangsa pemurah dari krisis moneter yang tengah terjadi.

Namun Abu Umar dan kawan-kawannya tidak berkeinginan membangun kehidupan baru yang nyaman di Turki, sebagaimana para pengungsi Palestina. Bagi mereka, Turki adalah tempat perhentian sementara untuk meneruskan perjalanan berikutnya kembali ke tanah leluhur Palestina. Turki menjadi tempat persinggahan sementara karena alasan agama, dukungan politik serta kemurahan hati pemerintah dan rakyatnya.

Di sepanjang perjalanan, saya melihat sendiri ekspresi tulus Abu Umar yang berdoa agar Allah SWT menyelamatkan Erdogan dari konspirasi dan marabahaya setiap kali menyaksikan fotonya terpampang di jalanan.

Semoga Allah SWT mengabulkan doa para mustad’afin yang dizalimi karena agama dan hak kebangsaan mereka yang sah.

Abu Umar sebagaimana para pengungsi Palestina bertekad bahwa tujuan tertinggi di sepanjang hidup mereka adalah kembali ke Palestina dan bersujud di masjid suci Al Aqsha yang dirindukan. Tidak cita-cita yang lebih mulia kecuali mendapatkan kembali hak politik mereka. Dan mereka mendapatkan perlindungan dari sang pemimpin yang pemurah.

Sebagian besar pengungsi Palestina Suriah lahir di pengungsian baik di Damaskus, Yarmuk, Alleppo maupun Homs. Mereka adalah lapis generasi kedua yang tetap mewarisi semangat kakek dan ayah mereka yang terusir dari kampung halaman dalam Perang 1967 bahwa Palestina adalah tanah air dan kampung halamannya. Oleh karena itu, sekalipun lahir di kamp-kamp pengungsian di Suriah pasca Perang, mereka secara administratif tetap tercatat sebagai pengungsi dan bukan warga negara Suriah.

Keyakinan, kebanggaan dan identitas itu pula yang tampaknya tetap dipertahankan ketika harus mengungsi ke Turki. Mereka ingin tetap dengan identitasnya tersebut Palestina, walau dalam praktiknya, pilihan itu cukup menyulitkan secara administratif.

Ketika keluar dari wilayah konflik di Suriah dan masuk ke Turki, pada awalnya mereka tercatat sebagai pengungsi Suriah dan berhak mendapatkan status perlindungan dari pemerintah sebagai pengungsi baik tunjangan hidup, akses kesehatan dan pendidikan bagi anak-anak mereka. Namun untuk identitas yang diyakininya tersebut, mereka lebih memilih jalan yang lebih sulit tadi.

Oleh karena itu, solusi damai Palestina tidak dapat diwujudkan tanpa kembalinya 7 juta pengungsi Palestina yang tersebar di seluruh dunia, betapapun seberapa kuat Trump, Netanyahu, Bin Salman, As Sisi menyodorkan formula damai Palestina tanpa menyertakan hak kembali mereka, sebagaimana mereka menyakini tidak ada Palestina tanpa kembalinya Al Quds (Yerusalem).

Dalam sebuah pertemuan dengan ratusan keluarga Palestina di Beylikduzu, Essenyurt, Istanbul pada 1 Syawal, saya menyaksikan semangat yang serupa, hidup untuk merebut kembali hak dan identitas mereka sebagai bangsa Palestina. Semangat yang menyatukan ratusan pengungsi Palestina dari seluruh pelosok Istanbul hadir dalam pertemuan akbar di gedung pertemuan di Esenyurt dengan jamuan super sederhana, yang difasilitasi Khairu Ummah beserta KNRP.

Ini bukan semata tentang bantuan kemanusiaan, namun ini tentang sebuah gagasan dan ide besar untuk mengembalikan kesadaran politik, identitas agama, kebangsaaan dan hak sejarah bangsa Palestina.

Bukan tanpa alasan jika terbersit rasa khawatir Abu Umar bahwa penjajahan dan pengungsian dapat mencabut akar sejarah. Bagi dia, Zionis tidak hanya mengusir rakyat Palestina dari kampung halaman, namun lebih dari itu, mereka juga telah berkonspirasi mencabut ingatan kesejarahan dan keagamaan dari sanubari bangsa Palestina dengan pelbagai propaganda mereka.

Dalam acara pertemuan keluarga itu di Essenyurt, sebuah pertanyaan sederhana disampaikan kepada anak-anak Palestina untuk berebut hadiah yang sederhana:
“Siapa yang menjajah Palestina?

Seorang anak berusia 4 tahun berlarian menyambut pertanyaan itu dan sempat terjengkang karena kurang hati-hati.

“Thailand”, teriaknya bersemangat.

Pecahlah tawa seisi ruangan.

Anak itu mendapatkan hadiahnya, bukan karena jawabannya yang benar, namun lebih karena semangat yang ada dalam jiwanya, karena semangat adalah awal kebangkitan.

Jika Theodore Herzl sukses menyatukan bangsa Yahudi Diaspora untuk merampas dan mendirikan negara dan selanjutnya menimpakan kezaliman dan kejahatan terhadap bangsa Palestina atas apa yang menjadi kezaliman dan kejahatan bangsa Eropa terhadap mereka, maka tampaknya Abu Umar, Khairu Ummah dan para pengungsi Palestina kini bangkit untuk merebut kembali apa yang menjadi hak absah mereka, namun dengan karakter mereka yang lebih spartan. Untuk itu, KNRP dan bangsa Indonesia menyokong penuh tujuan mulia tersebut baik untuk alasan kemanusiaan, politik, hukum.

Sumber : Raja Dachroni

#KNRPKepri
#SavePalestine