Masyarakat Kepri Mulai Sadar Budaya, Pemantun Pernikahan Mulai Dicari

TANJUNGPINANG, DISKOMINFO - Kepulauan Riau terkenal akan budaya berpantun. Mulai dari Ketua KPK hingga presiden, jika ke Kepri berusaha untuk menyampaikan satu atau dua bait pantun. Namun tak banyak orang Kepri yang fasih berpantun. Apalagi berpantun pada helat pernikahan.

“Kalau di Pulau Bintan ini ada kurang dari 20 orang pemantun pernikahan. Mulai dari usia 25 sampai yang paling senior, Tok Ali,” ujar Al Naziran Syahputra, seorang pemantun pernikahan di Kepri, Senin (1/7) lalu.

Pria yang akrab disapa Al ini memang sejak beberapa tahun terakhir, aktif di dunia pantun pernikahan. Memang sejak beberapa tahun terakhir pula, pantun pada perhelatan pernikahan di Kepri kembali ramai digunakan.

“Masyarakat Kepri mulai sadar budaya, hingga pantun tak lagi terlepas dari perhelatan pernikahan. Sekarang orang-orang sudah sadar pentingnya pantun pernikahan, jadi kalau cari pemantun dua atau tiga bulan sebelum acara. Kalau dekat-dekat hari, sudah susah,” sebut Al.

Apalagi pada musim-musim pernikahan. Pada sebelum Ramadhan, setelah Idul Fitri hingga Idul Adha, menjadi waktu-waktu yang dianggap musim pernikahan. Pada Juni lalu saja, Al mengaku memantun di 28 acara pernikahan. Ia sendiri sudah punya jadwal hingga Februari 2020 mendatang.

Dalam satu hari, ia bisa menjadi pemantun di dua hingga tiga pernikahan. Karena tak banyak pemantun pernikahan di Kepri, Al mengaku kerap berbalas pantun dengan orang-orang yang sama. Sebut saja Tamrin Dahlan, Syafarilis, Al Muklis, Murni hingga bersama Tok Ali Ipon.

Ayah dua anak ini mengaku senang menjadi pemantun. Selain dapat melestarikan budaya Melayu, juga dapat menjadi saksi sejarah dalam perjalan hidup pengantin. Untuk menularkan kegemaran berpantun, terutama pada kaum muda, Al kerap mengunggah aktivitasnya berpantun ke media sosial.

Ia berharap, kedepan ramai pemantun-pemantun muda di Kepri. Khususnya untuk pemantun di perhalatan pernikahan. Agar tak hilang tradisi ini.