Daerah Lain Study Tiru CeK Dare Kepri

TANJUNGPINANG, DISKOMINFO - Ternyata CeK Dare masih menjadi satu-satunya aplikasi pengaduan kekerasan terhadap perempuan dan anak di Indonesia. Beberapa daerah sempat melakukan study di Kepri, untuk melihat CeK Dare dan membangun aplikasi sendiri di daerah mereka.

“Ada beberapa daerah yang datang ke kita. Study tiru lah ya. Terakhir itu dari Fakfak (Papua), Jambi. Banten langsung foto-foto fitur aplikasi,” ujar Misni, SKM, M.Si, Kadis Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P2PA) Provinsi Kepri, Selasa (2/7).

Beberapa daerah lain telah sering mendengar tentang CeK Dare. Memang Dinas P2PA Provinsi Kepri kerap mempromosikan aplikasi ini pada pertemuan di tingkat nasional. Apalagi CeK Dare ini masih menjadi satu-satunya aplikasi pengaduan kekerasan terhadap perempuan dan anak di Indonesia.

“Kami bisa bilang bahwa CeK Dare ini menjadi yang pertama di Indonesia. Belum ada daerah lain yang membangun aplikasi serupa. Sejatinya kementerian yang ingin membangun, tapi karena lingkup 34 provinsi perlu pendanaan lebih besar,” sebut Misni.

Pasalnya selain membangun aplikasi CeK Dare, Dinas P2PA Provinsi Kepri juga menyediakan handphone dan membayarkan pulsa, bagi operator di setiap kabupaten dan kota. “Kita sediakan HP. Nomor kita yang pesan, kita yang bayar setiap bulan. Satu nomor untuk satu kabupaten dan kota,” terang Misni.

Operator yang ditunjuk juga harus selalu siap menindaklanjuti pengaduan ataupun membalas konsultasi. Misni mengaku selalu mengingatkan operator, untuk tidak jauh-jauh dari HP. Baterei HP harus selalu dalam keadaan terisi. Hal itu dilakukan demi upaya perlindungan yang cepat.

“Ada pernah hampir tengah malam kejadian di Senggarang. Ada KDRT, istrinya dipukul dengan balok broti. Walaupun malam, kalau kritis segera kami tangani. Berkoordinasi dengan Kepolisian,” sebut Riky, seorang petugas di Dinas P2PA Provinsi Kepri.

Kedepan, aplikasi CeK Dare ini akan dikembangkan lebih luas. Saat ini tak hanya menerima pengaduan, juga ditindaklanjuti bahkan hingga sampai ke jalur hukum. Perempuan yang menjadi korban kekerasan, diberdayakan dengan berbagai pelatihan.

“Kita beri pelatihan salon, merangkai bunga, menjahit. Ada yang dari Lingga sampai sekarang katanya sudah menerima jahitan. Kedepan tindaklanjut ini akan kita perluas lagi, bekerjasama dengan Kepolisian,” sebut Misni.

Karena dalam kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak, pasti ada pelaku. Dinas P2PA Provinsi Kepri menangani korban, sedangkan pelaku akan langsung ditindaklanjuti oleh Kepolisian.Novyana