Rudenim Tanjungpinang imbau warga bersikap sewajarnya kepada imigran

TANJUNGPINANG,DISKOMINFO - Rumah Detensi Imigrasi Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau mengimbau warga setempat dan Kabupaten Bintan bersikap sewajarnya kepada imigran.

"Warga untuk tidak memanjakan imigran atau pencari suaka untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, seperti prilaku asusila," kata Kepala Rudenim Tanjungpinang Muhamad Yani Firdaus, di Tanjungpinang, Jumat (21/6).

Ia mengatakan, interaksi sosial yang terbangun harus berjalan positif. Interaksi yang berlebihan justru akan menimbulkan dampak negatif sehingga memang seharusnya warga bersikap biasa saja.

Sikap warga yang terlalu ramah, seperti memasukkan para imigran di dalam rumah dapat disalahartikan oleh para pencari suaka itu. Apalagi mereka beragama syiah, yang ketika menyukai seorang wanita, hanya cukup niat menikahi wanita itu, dan kemudian halal melakukan hubungan intim.

"Dari kasus asusila yang terjadi, kami berpendapat prilaku itu tidak hanya kesalahan para imigran. Ini seperti ada penawaran dan permintaan. Kalau warga bersikap biasa saja, imigran juga tidak akan berani macam-macam," ujarnya.

Yani mengatakan jumlah imigran yang saat ini tinggal di Hotel Badra sebanyak 455 orang. Mereka seluruhnya pria berusia produktif. Setiap hari mereka diijinkan untuk keluar "Community House" mulai dari pukul 06.00-18.00 WIB.

Selama 12 jam setiap hari mereka berinteraksi dengan warga. Mereka memenuhi kebutuhan harian dengan berbelanja di warung milik warga.

Warga sebaiknya ikut mendorong mereka agar kembali ke negara asalnya, seperti Afghanistan, Somalia, Iran dan Iran.

"Bukan malah bersikap terlalu baik kepada mereka, ajak mereka ngopi di dalam rumah. Ini sebaiknya dihindari agar tidak terjadi permasalahan," ucapnya.

Beberapa hari ini kasus asusila yang dilakukan sejumlah imigran asal Afghanistan menjadi sorotan warga. Kasus itu telah ditangani pemerintah daerah, dan pihak kepolisian.

Akar permasalahan tersebut terjadi lantaran ada interaksi negatif antara imigran asal Afghanistan dengan wanita lokal. Permasalahan itu menjadi kasus lantaran ada istri orang yang diselingkuhi para imigran.

"Ada enam orang yang masuk ruang isolasi di Rudenim," tegasnya.

Yani mengemukakan Rudenim Tanjungpinang menjadi sasaran empuk sebagai institusi yang disalahkan dalam kasus asusila itu. Padahal berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 125/2016, pengawasan terhadap aktivitas imigran dilakukan oleh pemda dan pihak kepolisian. Sementara tugas Rudenim berhubungan dengan pengawasan keimigrasian.

(Asikk1)