Balai Karantina Tanjungpinang Cegah Masuknya Penyakit Jembrana ke Kepri

TANJUNGPINANG, DISKOMINFO - Temuan penyakit Jembrana Sapi Bali di sejumlah daerah penyuplai daging sapi ke Kepulauan Riau menjadikan sejumlah instansi menganggap penting untuk melakukan pencegahan masuk dan beredarnya penyakit tersebut.

Kepala Balai Karantina Kelas II Kota Tanjungpinang Donny Muksydayan mengatakan, kebutuhan masyarakat Kepulauan Riau terhadap daging sapi tergolong tinggi hingga harus didatangkan didatagkan dari daerah luar. Salah satu daerah penyuplai daging sapi berasal dari Sumatera Selatan.

"Dari data Ditemukan kasus penyakit Jembrana di wilayah itu sehingga harus dicegah supaya tidak masuk dan menyebar," kata Donny di Hotel CK, Senin (15/4/2019).

Hari itu, Balai Karantina Kelas II meggelar Rapat Koordinas (Rakor) lintas instansi se-Sumatera. Rakor membahas upaya pencegahan masuk dan beredarnya penyakit Jembrana dibuka Wali Kota Tanjungpinang, Syahrul.

Kepala Pusat Karantina Hewan dan Keamanan Hayati Hewan, Agus Sunanto menambahkan, sejauh ini Kepri masih aman dari penyebaran penyakit Jembrana. Sapi yang ada di Kepri tergolong aman. 

Untuk diketahui, penyakit Jembrana  atau disebut penyakit keringat darah pertama kali dilaporkan di Indonesia pada 1964. Penyebaran penyakit ini terdeteksi terjadi di Kabupaten Jembrana, Gianyar, Klungkung, Badung, Tabana dan Buleleng di Bali, merupakan penyakit menular akut pada sapi yang disebabkan oleh retrovirus.

Umumnya, sapi mengalami demam, diare bercampur darah, pembengkakan kelenjar limfe, keringat darah, pendarahan pada mata, anoreksia (hilangnya nafsu makan), sapi bunting di atas 6 bulan akan mengalami keguguran dan mengalami erosi ringan sampai nekrosis terdapat luka pada epitel selaput lendir mata.

Penyakit ini pertama kali dilaporkan di Indonesia pada tahun 1964, terjadi di Kabupaten Jembrana, Gianyar, Klungkung, Badung, Tabanan, dan Buleleng di Provinsi Bali, yang menyebabkan kematian tinggi pada Sapi Bali.

Sejauh ini Jembrana hanya menyerang Sapi Bali, tidak jenis sapi lain. Penyakit ini juga tidak berdampak kepada kesehatan manusia.

Kendati demikian, penyakit Jembrana dapat memberikan dampak negatif terhadap perekonomian. Umumnya, sapi yang terkena Jembrana 80 persen kemungkinan bakal sembuh dan 20 persen mati.

"Di sisi perekonomian menjadi masalah karena pastinya asetnya akan mati dan hilang karena penyebarannya yang cepat," papar Kepala Balai Veteriner Bukit Tinggi, Krisnandana.

Menrut dia, dari data tiga tahun terakhir, Kepri tergolong aman mengingat sapi yang didatangkan sesuai kebutuhan.

"Namun demikian, tidak berarti ini untuk dibiarkan," paparnya.

Kondisi ini dia sebut mungkin perlu menjadi kesepakatan untuk diputuskan agar Kepri dalam konteks ini bisa teramankan agar tidak menimbulkan kerugian cukup besar. 

"Kami tau bahwa kriteria strategis penyakit yang penyebaranya cepat ini yang menjadi perhatian pemerintah," jelasnya.

(Asikk3)