Musim DBD di Kepri, Jangan Obati Demam Sendiri

TANJUNGPINANG,DISKOMINFO - Tiga kasus kematian karena demam berdarah dengue (DBD), terjadi di Kepri selama 2019 ini. Kadis Kesehatan Provinsi Kepri, Tjetjep Yudiana, M.Kes berharap dua kematian di Tanjungpinang dan satu di Batam menjadi kasus kematian terakhir karena DBD.

“Langkah satu-satunya PSM (pembasmian sarang nyamuk). Harus ada gerakan kesadaran, yang dipimpin camat, RT, RW, itu yg belum saya lihat,” ujar Kepala Dinas Kesehatan, Tjetjep Yudiana, M.Kes, di Gedung Daerah, Tanjungpinang, Selasa (12/3).

Saat ini memang sudah ada gerakan satu jumantik (juru pemantau jentik) di satu rumah. Namun gerakan tersebut dinilai belum efektif. “Kalau itu efektif, sudah berhenti  (DBD),” ungkap Tjetjep. Ia mengingatkan masyarakat untuk aktif melakukan PSM.

Mulai dari membersihkan tempat-tempat tampungan air minimal satu minggu sekali. Pasalnya masa berkembang biak nyambuk dengue satu minggu sejak ditelurkan, hingga menjadi nyamuk. “Alas pot bunga, dibawah kulkas, AC, dispenser itu harus diperiksa. Kalau tidak itu menjadi sarang nyamuk,” sebut Tjetjep.

Ia mengingatkan masyarakat yang terkena DBD, untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Mulai dari meningkatkan trombosit dalam darah dan menambah cairan tubuh. “Suhu tubuh harus stabil, jadi perlu menambah cairan tubuh,” jelas Tjetjep.

Pada musim DBD seperti saat ini, masyarakat diminta waspada untuk kasus demam. Diingatkan untuk tidak mengobati demam sendiri, harus dibawa ke pusat kesehatan. “Satu hari saja demam sudah bisa dibawa ke Puskesmas, agar ada kewaspadaan dini. Jangan hari ketiga atau keempat, itu sudah terlambat,” Tjetjep mengingatkan.(Novyana)