KLHK Tangkap Sindikat Perdagangan Puluhan Burung Dilindungi

BATAM,DISKOMINFO - Direktorat Jenderal Penegakan Hukum Kementerian Lingkunhan Hidup dan Kehutanan (KLHK) bersama Balai KSDA Jambi, Balai Besar KSDA Riau dan Kepolisian Resort Tanjung Jabung Timur melakukan operasi pengamanan jaringan peredaran burung dilindungi di Batam, Kepulauan Riau.

Operasi tersebut dimulai dari tertangkapnya pelaku jual beli satwa yang dilindungi berupa 13 ekor kakaktua hidup, 11 opsetan burung cenderawasih dan 1 ekor monyet emas di Tanjung Jabung Timur Provinsi Jambi. Hasil pengembangan diketahui bahwa pelaku di Jambi dengan inisial E, menjual satwa ke jaringan pelaku di Batam dan Malaysia. Atas dasar tersebut, Direktur Pencegahan dan Pengamanan Hutan memerintahkan Tim Operasi dari Ditjen Gakkum LHK bersama dengan BKSDA Jambi, Polres Tanjung Jabung TImur yang didukung BBKSDA Riau untuk melakukan operasi penangkapan jaringan perdagangan satwa dilindungi di wilayah Batam.

Pelaksanaan operasi diawali dengan penangkapan seseorang berinisial Sdr. B yang biasa menjemput satwa yang diperdagangkan oleh Sdr. E (pelaku Jambi) di Pelabuhan Rakyat Pungur. Hasil interogasi terhadap Sdr. B, menyebutkan bahwa pelaku bertugas untuk menjemput satwa dan diperintahkan oleh bosnya yaitu Sdr. T. Atas informasi tersebut, Tim bergerak ke rumah Sdr. T, dan dari hasil pemeriksaan benar bahwa T yang memerintahkan B menjemput satwa yang berasal dari E. Selanjutnya T dibawa ke markas Polsek Batu Ampar kota Batam untuk dimintai keterangan lebih lanjut.

Selain berhubungan dengan jaringan T, pelaku di Jambi juga biasa menjual satwa ke W yang berada di Batam. Tim mendatangi kediaman W dan menemukan 30 ekor burung hidup, yang terdiri dari 4 ekor burung kakaktua jambul kuning, 6 ekor kakaktua jambul jingga, 5 ekor kakaktua jambul putih, 4 ekor bayan, 10 ekor burung nuri papua dan seekor kakaktua raja di halaman rumahnya.

Tim langsung mengamankan pemilik burung (W) ke Mapolsek Batu Ampat untuk dimintai keterangan dan terhadap 30 ekor burung dibawa ke Kantor Seksi Wilayah Batam BBKSDA Riau untuk dilakukan pengaman sementara.

Direktur Pencegahan dan Pengamanan Hutan, Sustyo Iriyono, menyatakan bahwa keberhasilan ini selain hasil pengembangan kasus juga merupakan hasil dari operasi intelijen yang kuat dari Ditjen Gakkum LHK, Ditjen KSDAE dan Kepolisian. Operasi pengamanan peredaran ilegal satwa dilindungi akan terus dilakukan untuk mengungkap jaringan mulai dari daerah asal satwa sampai ke tempat tujuan perdagangan

Sustyo selanjutnya menyampaikan bahwa dari hasil investigasi Ditjen Gakkum LHK perdagangan ini juga melibatkan pelaku di Malaysia, sehingga ini merupakan jaringan internasional.

“Kami telah mengembangkan kerjasama dengan Interpol dan baru minggu kemarin Tim kami ke Malaysia untuk berkoordinasi dan berkerjasama dengan Otoritas Malaysia terkait kasus-kasus penyelundupan satwa liar, kami akan ungkap semua pelaku dan jaringannya," tegas Sustyo. 

Kepala Balai Gakkum LHK Wilayah Sumatera, Eduard Hutapea, menambahkan bahwa untuk jaringan Sdr. T yang merupakan pengembangan dari kasus Jambi akan dilanjutkan penanganannya oleh Polres Tanjung Jabung Timur, sedangkan untuk jaringan Sdr W. akan dilakukan penyelidikan dan penyidikan oleh PPNS KLHK dan akan diusut tuntas sampai ke jaringan pelaku lainnya.

Direktur Jenderal Penegakan Hukum LHK, Rasio Ridho Sani, menegaskan bahwa upaya ini merupakan komitmen Kementerian LHK dalam aksi penyelamatan SDA termasuk Sumber Daya Hayati.

Lebih lanjut Rasio Ridho Sani menyampaikan bahwa kejahatan perdagangan ilegal satwa dilindungi merupakan kejahatan yang luar biasa karena selain merugikan Negara dari kehilangan potensi Sumber Daya Hayati, kejahatan tersebut melibatkan jaringan internasional. “Kejahatan ini sangat luar biasa, seperti kejahatan Narkoba dengan sel-sel jaringan yang terputus-putus, untuk itu kami terus menguatkan intelijen serta kerjasama dengan para pihak baik di level nasional maupun internasional untuk mengungkap kejahatan ini”, kata Rasio Ridho Sani.