Pemko Tanjungpinang Tandatangani Nota Kesepahaman Dengan Kemenpar RI

TANJUNGPINANG,DISKOMINFO - Pemerintah Kota Tanjungpinang menandatangani nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (Mou) dengan Kementerian Pariwisata (Kemenpar) RI di Gedung Kesenian Aisyah Sulaiman Abdullah Tanjungpinang, Rabu (26/12). Dilansir Haluan Kepri, penandatangan tersebut terkait dalam rangka pengembangan dan sinergitas program destinasi wisata di Kota Tanjungpinang.

MoU tersebut dipimpinan Asisten Deputi Pengembangan Destinasi Wisata dan Budaya Kementerian Pariwisata Lokot Ahmad Enda MM, dan didampingi Tim percepatan Pengembangan Destinasi, Tendi Nur Alam dan diterima langsung oleh Walikota Tanjungpinang Syahrul, yang didampingi Plt Kepala Dinas Budaya dan Pariwisata Raja Kholidin dan Seluruh OPD Se-Kota Tanjungpinang.

Adapun MoU ini terlaksana dengan tujuan meningkatkan pariwisata sebagai wisata berdasarkan kebudayaan Melayu yang disejalankan dengan penyerahan pokok pikiran kebudayaan daerah Melayu Tanjungpinang serta buku sejarah cagar budaya. Serta pemberian piagam penghargaan kepada penyumbang koleksi museum Kota Tanjungpinang.

Pada kesempatan tersebut, Syahrul menyampaikan pidato kebudayaan yang mengatakan posisi Kota Tanjungpinang sebagai bekas tapak kerajaan Melayu Riau telah memberi andil cukup besar akan keberadaan objek kebudayaan. "Kita memiliki tradisi lisan yang sangat banyak, pada masa dahulu orang tua kita selalu bercerita tentang hikayat, fabel, Tambo, dan beraneka dendang, syair, dan pantun. Semuanya itu harus dikembangkan jangan sampai punah," kata Syahrul. Syahrul juga berharap kepada dinas terkait harus mampu melihat keberadaan tradisi tersebut. Buku bacaan yang berisikan kisah-kisah lokal harus segera diangkat. Penulisan dan penerbitan buku cerita rakyat juga harus digalakkan.

"Saat ini orang sibuk dengan literasi, padahal nenek moyang kita dahulunya telah menunjukkan kecintaan mereka pada dunia tulis menulis. Jangan sampai manuskrip itu hilang tak berbekas, manuskrip adalah bukti otentik akan kejayaan masa lalu. Melalui manuskrip itulah Kota Tanjungpinang akan mampu menjadi pusat kajian kebudayaan Melayu," jelasnya. Menurut Syahrul, dalam segala aspek dan bidang Tanjungpinang cukup mumpuni untuk diperhitungkan. Dalam bidang bahasa, Tanjungpinang telah lama dikenal bahkan disebutkan Bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu Kepulauan Riau. "Semestinya dalam perkembangan bahasa Indonesia modern sekarang ini, kita orang Tanjungpinang harus dapat meningkatkan penggunaan kosa kata bahasa Melayu ke dalam bahasa Indonesia," lanjutnya.

Diakhir pidatonya, Syahrul mengucapkan terima kasih atas sumbangsih dari para penyusun buku Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD) Kota Tanjungpinang. Ia mengatakan tersusunnya PPKD ini merupakan langkah kecil yang memiliki arti strategis. Pengembangan kebudayaan tidaklah mungkin dapat dilakukan dengan serta merta tanpa adanya data dasar tentang kebudayaan. "Saya juga telah dipahamkan bahwa untuk memperoleh Dana Alokasi Khusus (DAK) kebudayaan di Kementerian Pariwisata, setiap daerah harus terlebih dahulu memiliki PPKD. Alhamdulillah kita telah menyusunnya melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata," pungkasnya.

Lebih lanjut, Asisten Deputi Pengembangan Destinasi Wisata dan Budaya Kementerian Pariwisata, Lokot Ahmad Enda MM menyampaikan, MoU ini kedepannya sebagai tonggak kemajuan wisata Kepulauan Riau dengan perencanaan terpadu untuk destinasi pariwisata berdasarkan kebudayaan Melayu Kepulauan Riau. "Karena Kepri penyumbang Visa ketiga (3) setelah DKI dan Bali sebagai daerah wisata dari pelancong baik mancanegara maupun wisatawan lokal," kata Lokot. Selain itu, Tanjungpinang sebagai ciri khas budaya Melayu sudah memliki branding wisata budaya dan bahari, sehingga Kementerian Pariwisata dengan Pemko Tanjungpinang melalui MoU dapat mendukung pembagunan destinasi wisata baik kulinernya maupun objek wisatanya. "Semoga kedepannya MoU ini sebagai pedoman dan dasar perencanaan alam pembagunan destinasi," tutupnya.(SN)