Gubernur Kepri Kunjungi Pulau Mapur Bintan

BINTAN,DISKOMINFO - Pulau Mapur, Kabupaten Bintan sedang kedatangan orang nomor satu di Kepri. Dilansir Haluan Kepri, Syaiful ikut rangkaian Gubernur berlalu lalang dari satu ujung ke ujung lainnya di Pulau Mapur. Syaiful senang karena Nurdin lah, sebagai Gubernur di Kepri yang pertama meninjau langsung sekolah ke ujung pulau.

"Baru Pak Nurdin ni lah yang ninjau langsung naik motor dari lokasi sekolah ke ujung kampung sekolah kelas jauh melalui jalan terjal tak beraspal. Panjang lagi. Sebelas kilometer,” kata Syaiful saat Gubernur berkunjung ke Mapur beberapa waktu lalu.

Gubernur memang rajin berkunjung ke pulau-pulau di Kepri. Akhir pekan, ketika Sabtu dan Ahad banyak orang beristirahat, dia memilih berkelana ke pulau-pulau. Menjemput aspirasi, memperkuat silaturahmi.

Kadang pun, agenda-agenda di pulau selalu dipenuhi Gubernur di hari-hari kerja. Memotivasi anak-anak mudah selalu menjadi agenda Gubernur. Apalagi dia sendiri pun lahir di pulau kecil. Ketika ke sekolah-sekolah, motivasi itu selalu dilepaskan Gubernur. Apalagi jika melihat kesungguhan anak-anak dalam belajar.

Di Mapur misalnya, Gubernur dalam satu kelas bertemu dengan pelajar kelas enam dan empat. Dia menyimak betul dua siswa kelas enak yang sedang mengarang, mengasah kemampuan bahasa Indonesia dalam tulis menulis.

Sementara, di ruang kelas yang sama, empat pelajar kelas empat sedang belajar matematika. Mereka belajar dalam satu kelas yang sama. Beda pelajaran tapi satu guru. "Pintar budak budak pulau ni. Pelajaran ngarang bagus bahasa dan ceritanya.

Belajar matematika pun cepat cara menghitung dengan metode hitung jari," kata Gubernur yang ikut membaca hasil karangan pelajar itu juga menyimak cara siswa kelas empat berhitung.

Saat ke Mapur itu, Gubernur meninjau Sekolah Satu Atap SMPN 22 Mapur. Sekolah ini dikepalai oleh Arafah. Sekolah ini mempunyai keunikan tersendiri makanya dinamakan Sekolah Satu Atap.

Sekolah tersebut juga memiliki sekolah kelas jauh yang berlokasi di kampung sebelah berjarak 11 Km dari lokasi sekolah induk. Di sekolah tersebut proses belajar mengajarnya ada yang dalam satu kelas diisi oleh seorang guru tapi mengajarkan dua kelas murid dengan mata pelajaran dan tingkatan kelas yang berbeda.

Di kelas jauh juga demikian keseharian dalam proses belajar mengajar di sekolah satu atap tersebut. Hal itu dikarenakan gedung sekolah yang masih kurang dan juga guru pengajarnya juga kurang.

Kelas jauh ini ada karena lokasi kampung satunya tidak memungkinkan peserta didik atau pun murid untuk setiap hari menuju ke sekolah induk di SMAN 22 tersebut. Untuk itu anak anak sekolah yang kelas jauh mereka belajar di SDN 04 Kampung Bebak Mapur.

Gubernur risau begitu mendengar cerita dari para guru akan hal tersebut. Akhirnya memutuskan meninjau langsung melalui jalur darat mengendarai kendaraan roda dua.

Jalan terjal berliku naik turun masuk semak semak hutan belukar sebagian jalan berpasir hal tersebut memang sangat tidak memungkinkan menjadi jalur atau akses bagi peserta didik. Apalagi siswa sekolah yang akan berangkat menuju sekolah induk karena medannya sangat berbahaya.

Setelah menjelajah Mapur, Gubernur langsung ingin ada solusi terbaik untuk akses anak-anak dalam menunu sekolah. Menurut Gubernur, dengan akses jalan yang 11 kilo meter "tidak sehat", tak memungkinkan dibantu sepeda motor. Jarak 11 km itu memang antara kelas induk dan kelas jauh di Pulau Mapur.

Untuk jangka pendek bisa jadi bagi siswa kelas jauh agar bisa belajar di sekolah induk dapat dibantu angkutan jalur laut. Karena, kata Gubernur di samping jarak tempuh lebih dekat dan aman untuk dilalui.

Meski begitu, pelantar yang panjangnya sekitar 500 meter harus dibenahi dahulu. Dalam jangka panjang, Gubernur ingin jalan di Mapur itu dibangun. Apalagi sangat menunjang anak-anak mendapat akses pendidikan. Apalagi melihat pertumbuhan pendudukan dan lulusan sekolah, diyakini akan ada tambahan sekolah lagi.

Dari sekolah utama ke kelas jauh dengan jalan yang "kurang sehat" itu, dibutuhkan waktu 45 menit. Gubernur yang melakukan peninjauan saat itu pun langsung naik kapal. Tapi tidak ada pelabuhan. Untuk saat kunjungan itu ada batang kayu seperti bekas tangga.

Naiklah Gubernur ke kapal dengan sandaran batang kayu itu di dinding kapal. Syaiful melambai tangan ketika kapal Gubernur mulai menjauh dari Mapur. Tentu dia berharap ke depan apa yang direncanakan Gubernur cepat terealisasi.(SN)