Wagub Kepri Minta Pererat Hubungan Sejarah dan Kepariwisataan

MALAYSIA,DISKOMINFO - Wakil Gubernur H Isdianto mengatakan silaturahmi antara Melaka, Malaysia dengan Kepulauan Riau harus terus dipererat. Iven-iven sejarah antar dua wilayah ini harus terus digelar dan dipadukan. Sehingga generasi milenial tahu sejarah dan hubungan dua wilayah ini sejak dahulu secara benar.

“Mereka mungkin tak terlalu paham, kita lakukan iven dan acara agar mereka tahu ikatan sejarah Kepri dan Melaka. Ke depan kerjasama Melaka dan Kepri terus dipertingkatkan,” kata Wagub saat menghadiri Majelis Silaturahmi dengan Perhimpunan Melayu Bugis Rumpun di Dataran Mat Riau Bukit Baru, Melaka, Malaysia, Selasa (23/11).

Dilansir Haluan Kepri, Wagub berkisah tentang hubungan Melayu-Bugis Kepulauan Riau dan Melaka. Zuriat Melayu-Bugis yang ada di Melaka sekarang adalah keturunan Raja Jakfar ibni Raja Haji Fisabilillah. Raja Haji Fisabilillah ibni Daeng Celak adalah Yang Dipertuan Muda (Raja Muda) yang ke-4 Kesultanan Riau-Lingga-Johor dan Pahang. Beliau berkuasa sejak tahun 1777 sampai dengan tahun 1784. Dengan demikian, kata Wagub, zuriat Melayu-Bugis yang ada di Melaka merupakan keturunan yang sama dengan zuriat Melayu-Bugis yang ada di Kepulauan Riau.

“Diharapkan ke depan ini dilakukan kerja sama yang lebih banyak di antara Zuriat Melayu- Bugis Melaka dan Kepulauan Riau, khususnya, dan masyarakat Kepulauan Riau dan masyarakat Melaka, umumnya,” kata Wagub. Dengan kerja sama itu, hubungan silaturahim di antara Melaka dan Kepri akan semakin erat lagi dan tidak terputus karena perbedaan negara. Semoga harapan itu segera terwujud untuk kemajuan bersama.

“Sejarah antara Kepulauan Riau dan Melaka punya ikatan tersendiri. Raja Haji Fisabilillah membuat ikatan itu semakin erat,” kata Wagub. Menurut Wagub, hubungan itu juga harus diperkuat dalam bidang kepariwisataan. Wisata religi, sejarah dan banyak lagi bisa didapatkan warga Melaka khususnya dan Malaysia di Pulau Penyengat.

Sementara itu, Pengurusi PMBS Tuan Muhammad Yusuf bin Muhammad Syekh mengatakan ada satu hal yang tidak bisa dilupakan pada 1824 yang memisahkan Johor, Riau dan Pahang. Itu semua karena penjajah. Corak inilah yang didapatkan hari ini. “Tapi kita disatukan semula oleh kebudayaan, bahasa dan sebagainya. Kita kembangkan,  pupuk dan teruskan,” kata Tuan Muhammad.(SN)