Guru Provinsi Kepri Raih Rekor Muri Dunia

DISKOMINFO - Salah satu guru di Provinsi Kepri, hasil karya puisi-puisinya terpilih masuk dalam perlombaan Guru Menulis Puisi Tingkat ASEAN 2018. Karyanya yang berjudul Antologi Puisi Guru pun telah dibukukan, bahkan mendapat piagam penghargaan dari Rekor Dunia MURI, sebagai bagian dari penulis buku mencapai target puisi terbanyak antologi puisi 1.000 dosen dan guru tingkat ASEAN.

Dilansir Haluan Kepri, Nurhayati SPd, guru dari SMPN 54 Batam yang kesehariannya selain mengajar biologi, juga menjabat sebagai Waka Kesiswaan. Ia sendiri tidak menyangka, bila puisi-puisinya yang dikirim lewat lomba Guru Menulis Puisi Tingkat ASEAN 2018 diselenggarakan oleh Perkumpulan Rumah Seni Asnur Indonesia, terpilih sebagai salah satu puisi terbaik dari 1.000 guru dan dosen tingkat ASEAN.

Lomba guru menulis puisi baru pertama kali diselenggarakan dan hanya diikuti oleh para guru di tingkat ASEAN. Untuk  Provinsi Kepri sendiri menyertakan 150 guru, namun hanya puisi Nurhayati yang terpilih. Perlombaan tersebut dilakukan secara online, dan ketika ia menerima surat undangannya untuk mendapatkan penghargaan, juga dikirim secara online ke sekolah.

"Gak nyangka aja, padahal cukup banyak guru dan dosen yang mengirimkan karyanya, di Provinsi Kepri hanya saya satu-satunya terpilih. Dan puisi saya itu masuk rekor dunia Muri besama 1.000 guru dan dosen se ASEAN," ujar Nurhayati kepada Tim Pendidikan Haluan Kepri dengan bangga, Sabtu (10/11).

Menurutnya, menulis puisi merupakan hobinya sejak ia sekolah dulu, dan setelah menjadi guru malah terbiasa untuk menulis dan membaca buku. Bahkan beberapa karya puisinya itu telah dibukukan hingga 4 judul buku. Dan dalam waktu dekat ini, satu buku sedang di rilis merupakan kumpulan puisi-puisinya setebal 54 lembar yang diterbitkan sebanyak 50 eksemplar.

"Untuk sementara kita terbitkan 50 buku dulu karena masih ada yang perlu direvisi. Dan isi dari cerita dibuku itu adalah terkait motivasi hidup, dan cara mendidik anak.  Disamping itu juga kita lihat respon pembaca nanti, kalau disukai kita perbanyak lagi," katanya.

Diakuinya, bahwa pada saat ini menulis terutama dikalangan generasi muda sangat kurang minat. Maka dari itu penghargaan tingkat ASEAN ini menjadi motivasi diri untuk mengerakan budaya menulis dan membaca yang disejalankan dengan program pemetintah Gerakan Literasi Sekolah (GLS). "Kurang minatnya generasi muda untuk menulis atau membaca ini, karena mereka kurang wadah dan upaya untuk menggerakn mereka.

Makanya di SMPN 54 Batam, Setiap ada momen kegiatan, kita adakan lomba membaca puisi, bahkan karya-karya puisi saya mereka bacakan dengan baik. Kebetulan besok (Senin ini, red), sekolah akan menggelar kegiatan Hari Pahlawan, salah satunya lomba membaca puisi tersebut," katanya.

Selain lomba menulis, Nurhayati juga teah membuat wadah khusus bagi siswa untuk menyalurkan hobi menulis dan membacanya. Meski saat ini baru 20 siswa yang tergabung, namun mereka benar-benar yang memiliki minat membaca dan menulis. "Kedepannya kita akan menggelar berbagai kegiatan menulis dan membaca yang kita sejalankan dengan GLS, seperti pelatihan menulis yang baik mendatangkan pihak jurnalis, bedah atau risensi buku, serta seminar-seminar menulis," jelasnya.

Dengan adanya gerakan menulis dan membaca yang ia gagas itu, harapan Nurhayati, semua guru di Batam, khususnya di SMPN 54 Batam menjadi hobi menulis dan membaca. Disamping itu harapan Nurhayati, budaya menulis terutama dikalangan siswa bisa tertanam sejak dini. "Untuk menggerakan ini, salah satunya saya harus bisa memberikan contoh kepada anak didik dan guru, kalau dari menulis itu banyak karya yang bisa kita munculkan dan menjadi prestasi," ucapnya lagi.(SN)