2019 NJOP Tanjungpinang Disesuaikan

TANJUNGPINANG,DISKOMINFO - Pemerintah Kota (Pemko) Tanjungpinang merencanakan penyesuaian dengan menaikkan Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) Bumi dan Bangunan 2019 mendatang. Dengan begitu nilai Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) yang harus dibayarkannya masyarakat tahun depan bakal naik.

Dilansir Haluan Kepri, Walikota Tanjungpinang Syahrul membenarkan rencana penyesuaian NJOP tersebut, yang saat ini sedang ditelaah oleh Badan Pengelolaan Pajak dan Retribusi Daerah Kota Tanjungpinang. Hal tersebut, kata Syahrul, sudah seharusnya disesuaikan karena rentang harga pasar tanah dan bangunan di Tanjungpinang dengan NJOP sangat berbeda.

"Sudah puluhan tahun tidak ada penyesuaian yang artinya kenaikan ini juga untuk meningkatkan PAD Kota Tanjungpinang. Nilai NJOP itu menentukan, saatnya sekarang menyesesuaikan. Tetapi sekarang baru kita telaah, belum ada angkanya berapa persen kenaikan," ungkap Syahrul, Minggu (28/10).

Lebih lanjut, Syahrul menjelaskan hal ini bukan kenaikan namun disesuaikan. Artinya, nilai harga tanah saat ini sudah terlalu lama yang perlu dilakukan penyesuaian. Misalnya ada tanah yang harganya NJOP Rp65.000 tapi di pasar sudah Rp200.000, banyak sekali yang seperti itu.

"Harga NJOP dan pasar itu berbeda saat ini. Harusnya itu sudah bisa naik. Namun Kita telaah dulu dari segi sektor pajaknya yang mana. Dan kita lihat juga daerah lain, seperti Bintan itu sudah tidak pakai NJOP yang lama seperti kita. Makanya kita lihat dulu kondisi, dan hal ini juga upaya untuk meningkatkan PAD kita," ujarnya.

Dirinya pun belum mengetahui pasti penyesuaian NJOP tersebut akan diatur dalam Peraturan Walikota (Perwako) atau hanya dengan Surat Keputusan (SK) Walikota. Ia menyebutkan, kenaikan NJOP ini memang sesuatu yang tak bisa dihindari. "Penyesuaian ini, kita belum tau diatur dalam SK walikota atau Perwako.

Kita lihat nanti, tapi sesuai peraturan. Ini juga untuk menjaga keseimbangan NJOP antar kawasan, dimana beberapa lokasi pada tahun-tahun sebelumnya belum disesuaikan sehingga menjadi tidak seimbang," pungkasnya.(SN)