FBK kembali menghadirkan permainan tradisional Melayu

Tanjungpinang, DISKOMINFO Even unggulan Provinsi Kepulauan Riau ini akan menyajikan beberapa permainan tradisonal Melayu seperti permainan jong, layang-layang, gasing, bakiak dan eksibisi jet. Acara ini berlangsung dari 14-16 Oktober 2017 di tepi laut Kota Tanjungpinang.

Jong (Perahu Layar) beberapa literatur dikatakan bahwa jong milik masyarakat pesisir pantai. Artinya jong merupakan permainan tepi pantai yang dilakukan masyarakat nelayan. Menurutnya, hampir tidak diketahui asal mula jong berasal. Terutama jika dikaitkan dengan wilayah melayu serumpun (malaysia, singapura, kepulauan riau, thailand, brunai, filipina) yang pada dasarnya merupakan masyarakat pesisir. Namun jika dilihat secara seksama, tentulah terdapat perbedaan antara jong disatu tempat dengan tempat lainnya, terutama bahan yang digunakan untuk membuatnya.

Layang-layang permainan ini berawal dari dokumen China sekitar 2500 SM. Penemuan sebuah lukisan gua dipulau Muna, Sulawesi Tenggara, pada awal abad ke-21 yang memberikan orang kesan bermain layang-layang menimbulkan spekulasi mengenai tradisi yang berumur lebih dari itu, dikawasan nusantara. Diduga terjadi perkembangan yang saling bebas antara tradisi dichina dan di nusantara karena dinusantara banyak ditemukan bentuk-bentuk primitive layang-layang yang terbuat dari daun-daunan. Dikawasan nusantara sendiri catatan pertama mengenai layang-layang adalah dari sejarah Melayu (Sulalatus Salatin) (abad ke-17) yang menceritkan suatu festival layang-layang yang diikuti oleh seorang pembesar kerajaan. Dari China, permainan layang-layang menyebar ke barat  hingga kemudian popular di Eropa. Layang-layang terkenal ketika dipakai oleh Bendjamin Franklin ketika ia tengah mempelajari petir.

Gasing, di wilayah Pulau Tujuh (Natuna), Kepulauan Riau, permainan gasing telah ada jauh sebelum penjajahan Belanda. Sedangkan di Sulawesi Utara, gasing mulai dikenal sejak 1930-an. Permainan ini dilakukan oleh anak-anak dan orang dewasa. Biasanya, dilakukan di pekarangan rumah yang kondisi tanahnya keras dan datar. Permainan gasing dapat dilakukan secara perorangan ataupun beregu dengan jumlah pemain yang bervariasi, menurut kebiasaan di daerah masing-masing. Hingga kini, gasing masih sangat populer dilakukan di sejumlah daerah di Indonesia. Bahkan warga di kepulauan Rian rutin menyelenggarakan kompetisi. Sementara di Demak, biasanya gasing dimainkan saat pergantian musim hujan ke musim kemarau. Masyarakat Bengkulu ramai-ramai memainkan gasing saat perayaan Tahun Baru Islam, 1 Muharram.

Bakiak adalah permainan tradisional yang dimainkan anak-anak Sumatera Barat sekitar pertengahan tahun 1970-an. Bakiak atau biasa disebut juga dengan terompa galuak biasanya dimainkan minimal 3 orang anak. Disumatera Barat bakiak terbuat dari terompah deret dari papan bertali karet yang panjang. Berbeda dengan bakiak yang ada di Jawa Timur dan Jawa Tengah, di daerah Jawa bakiak terbuat dari kayu dan ban bekas.

Permainan tradisional Melayu atau lebih dikenal di dunia internasional dengan nama Malay tradisional game adalah permainan asli yang ada pada suatu daerah. Permainan ini pada umumnya dimainkan oleh penduduk asli daerah tersebut kemudian dilestarikan dan dimainkan didaerah-daerah lainnya.Permainan tradisional sudah berkembang dilingkungan masyarakat sejak zaman dahulu. Seiring dengan perkembangan zaman, dikota-kota besar sudah jarang dijumpai permainan tradisional, namun didaerah tertentu masih ada dijumpai permainan tradisional.

Kekayaan suatu daerah bukan hanya dilihat dari sumber daya alam (SDA). Tetapi juga dapat dilihat dari permainan asli yang ada didaerah tersebut. Tujuan digelarnya permainan tradisional ini adalah untuk memperkenalkan permainan asli daerah serta kebudayaan-kebudayaan tradisional kepada wisatawan asing maupun lokal yang hadir. (Windha)