Dinkes Batam Turunkan Capaian Imunisasi MR

BATAM,DISKOMINFO - Kepala Dinas Kesehatan Batam, Didi Kusmarjadi menegaskan, sampai saat ini pemberian imunisasi MR di Batam baru mencapai 44 persen saja atau sekitar 150 ribu anak dari target yang dipatok sebesar 95 persen atau sebanyak 350 ribu anak. Penyebab sulitnya capai target, menurut Didi, faktor utamanya, stigma dari masyarakat masih banyak memandang kalau imunisasi atau vaksin MR itu haram hukumnya.

“Itu sangat sulit sekali, bahkan boleh saya katakan, target 95 persen pemberian imunisasi MR di Batam mustahil untuk bisa dicapai,” terangnya. Makanya, pihaknya menurunkan sendiri target yang semula 95 persen, menjadi hanya sebesar 60 persen saja. Hal tersebut mengikuti patokan target yang dipakai oleh pusat.

Untuk meningkatkan kesadaran masyarakat di Batam agar mau mengimunisasi MR anaknya, pihaknya terus gencar menggelar pertemuan dengan tokoh masyarkat, kepsek, berkoordinasi dengan MUI Batam meski sampai saat ini tetap menegaskan imunisasi MR haram. Untuk kendala lainnya, Didi menegaskan tidak ada sama sekali.

Sebelumnya Kadinkes Kepri, Tjejep Yudiana pernah menyatakan anak yang terkena rubella yang sudah tercatat Dinkes Kepri, lanjut Tjejep, jumlahnya mencapai 114 anak yang tersebar di kabupaten/kota se-Kepri. Jumlah terbanyak anak ditemukan terkena rubella sendiri, lanjut Tjejep, didominasi dari Batam. “Tapi saya jumlah pastinya tak hafal. penderita ini ketahuan terkena rubella setelah memeriksakan ke rumah sakit. Sementara yang sudah terlanjur kandunganya keguguran, terlanjur cacat, itu tak diperiksakan oleh orangtuanya. Contoh faktanya adalah siswa di SLB,” katanya.

Di Kepri sendiri saat ini jumlah SLB ada enam, termasuk di Batam dengan jumlah murid sekitar dua ribuan lebih. Tjejep menegaskan dari jumlah SLB tersebut tiap sekolah itu sebagian dipastikan cacat karena terkena rubella. “Kalau kurang yakin dengan ganasnya virus rubella yang menjangkiti anak-anak di Kepri, saya sarankan masyarakat datanglah ke SLB. Virus rubella sendiri bagi yang terjangkit dampaknya menimbulkan kebutaan, bisu, tuli, perkembangan tubuhnya tak normal atau cebol hingga ke kematian,” terang Tjejep.

Untuk jadwal pemberian imunisasi MR sendiri di tiap posyandu dilakukan sebulan sekali. Sementara untuk di puskesmas se-Kepri dilakukan tiap seminggu sekali dan itu semua gratis. Sedangkan di rumah sakit bisa dilakukan tiap hari, namun dikenakan biaya jasa penanganan dokter. “Kenapa di Puskesmas dilakukan seminggu sekali? Sebab yang datang ke Puskesmas untuk imunisasi jumlahnya sedikit sekali.

Kalau tiap hari hanya ada tiga atau empat orang saja yang mau imunisasi MR, itu sangat mubazir sekali. Karena satu ampul vaksin MR itu harus dipakai untuk delapan anak dan sekali dibuka, apabila masih tersisa, harus segera dibuang, tak boleh lagi disimpan atau digunakan lagi ke anak lainnya,” ujar Tjejep mengakhiri.(SN)